Si Gajah Kecil dan Hidung Panjangnya
Di sebuah hutan yang hijau dan rimbun, tinggallah seekor gajah kecil bernama Gogo.
Gogo punya telinga yang lebar seperti kipas. Kipat-kipit, kipat-kipit.
Gogo punya badan yang besar dan bulat. Bum-bum, bum-bum.
Dan Gogo punya hidung yang saaangat panjang. Namanya belalai.
Suatu pagi, Gogo melihat seekor kelinci sedang minum air di sungai.
Kelinci itu menunduk dan slurp, slurp, slurp, air masuk ke mulutnya.
"Wah, segarnya!" kata Kelinci.
Gogo juga haus. Ia ingin minum.
Gogo mencoba menunduk seperti kelinci.
Tapi, aduh! Kakinya terlalu panjang. Lehernya kurang panjang.
Gogo tidak bisa menempelkan mulutnya ke air. Gogo sedih.
Tiba-tiba, Ibu Gajah datang. Ibu Gajah tersenyum lembut.
"Gogo sayang," kata Ibu, "Kamu tidak perlu menunduk. Lihat hidungmu yang panjang itu?"
Gogo melihat belalainya. "Iya, Bu?"
"Coba celupkan ujung belalaimu ke air," kata Ibu. "Lalu tarik napas pelan-pelan."
Gogo ragu-ragu. Tapi dia mencobanya.
Ia mencelupkan ujung belalainya. Celup!
Lalu ia menarik napas. Sruuut...
Air sungai yang dingin masuk ke dalam belalainya.
"Sekarang, angkat belalaimu dan semprotkan ke mulutmu," kata Ibu.
Gogo mengangkat belalainya. Semprot!
Byuurrr! Air segar masuk ke mulut Gogo.
"Horeee!" teriak Gogo senang. "Aku bisa minum! Aku bisa minum!"
Gogo sangat senang. Ia mengisi belalainya lagi dengan air.
Tapi kali ini, ia tidak meminumnya.
Gogo menyemprotkan air itu ke punggung Ibu. Byuurrr!
Ibu Gajah tertawa. "Oh, Gogo nakal ya!"
Sekarang Gogo tahu, hidung panjangnya sangat hebat.
Ia bisa minum, ia bisa mandi, dan ia bisa bermain air!
Sruuut... Byuurrr!